Rabu, 28 Agustus 2013

Wanita Shalehah, Siapa yang memetikmu?

Diibaratkan wanita sama dengan buah apel

Suatu saat di pagi yang cerah. Angin bertiup tenang. Sinar mentari lembut menerangi alam.Tapi sayang, itu semua tidak dapat meredam kegundahan hati sebuah apel yang berada tinggi nun di pucuk. Sejak seminggu lalu Apel itu sibuk berfikir, kenapa aku tidak dipetik orang? Padahalkulitku licin mulus. Warnaku merah bersinar. Siapa yang melihat pasti meluap-luap seleranya. Pasti mereka terbayang betapa manisnya rasaku. Tapi kenapa aku tidak dipetik orang?
Apel tersebut memandang ke bawah. Heran, kenapa manusia lebih memilih kawan-kawannya yang berada di bawah sana. Bukankah mereka tidak mendapat udara yang bersih dan cahaya mentari seperti aku yang berada di puncak ini? Bukankah kawan-kawanku itu banyak yang telah rusak karena seranggga?

Apel tersebut bingung memikirkan kenapa rekan-rekannya yang telah banyak tersentuh dan penuh debu menjadi pilihan, bukan dirinya yang belum tercemar dan dijamah orang. Apa kekurangan diriku?

Berjuang Layaknya Ikan Salmon

Selalu ada sosok yang menginspirasi.. 
Hidup penuh perjuangan
begitu terdengar selalu...

Hidup bukanlah sebuah narasi yang datar dan tenang tetapi ia adalah sebuah dunia yang berombak dan bergelombang, kini kita sedang meniti itu bukan? Meniti di tengah riak dan gelombang untuk mencapai sebuah tujuan, haluan hidup yang disebut... masa depan. Tidak ada hidup tanpa masa depan di dunia ini, itulah sebabnya perjuangan dan kerja keras sangat diperlukan disini.

Belajar dari kisah mereka, teman-temanku. Yang terlahir dengan sebuah perjuangan... Bersakit-sakit dahulu, namun entah kapan bersenang-senangnya. Ahh, andai aku berada di posisi mereka, tentu mungkin aku takkan kuat bertahan.

Jangan Bermaksiat

AKIBAT MAKSIAT TERHADAP JIWA

Allah SWT menciptakan manusia di muka bumi ini dengan segala perintah dan peraturanNya yang harus di patuhi dan dilaksanakan serta segala laranganNya yang harus ditinggalkan.

Namun betapa banyak kemaksiatan-kemaksiatan dan pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan manusia dan perintah-perintah yang justru ditinggalkannya. Sesungguhnya kemaksiatan dan perbuatan dosa yang kita lakukan. Allah telah menetapkan hukuman dan akibat-akibatnya. Akibat-akibat perbutan dosa dan maksiat itu akan mengenai hati dan jiwa kita.

Diantara akibat itu adalah :
1. Menutup hati, pendengaran dan penglihatan sehingga terkuncilah hatinya.
Allah membuatnya lupa untuk berdzikir dan membuat lupa terhadap dirinya sendiri. Maksiat ini buat dada seseorang jadi sempit, dipalingkan dari kebenaran dan menambah penyakit pada hatinya. Seperti yang diterangkan oleh imam Ahmad, dari Hudhaifah r.a. Ia berkata
� Hati itu ada empat kondisi. Pertama yaitu hati yang bersih yang memiliki lampu yang menerangi. Itulah hati orang mukmin. Ke dua hati yang tertutup, yaitu hait orang kafir. Ke tiga, hati yang trebalik, yaitu hati orang munafik. Ke empat hati yang ada dua unsur materi (madah) di dalamnya, unsur keimanan dan kemunafikan, kapan saja salah satu unsurnya yang mendominasi maka unsur itu yang menguasai.�

Kemaksiatan juga menjauhkan seseorang dari ketaatan pada Allah, menjadikan hati menjadi tuli dan enggan mendengarkan kebenaran dan membuat seseorang buta dan enggan melihat kebenaran. Perumpamaan antara hatinya dan kebenaran yang tidak bermanfaat baginya adalah seperti antara telinga dan suara, antara mata dan warna, serta antara lidah orang bisu dengan ucapan. Jadi sebenarnya kebutaan, ketulian, dan kebisuan hati adalah hakikat cacat yang sebenarnya, cacat zat, dan cacat organ sekaligus.
��karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta adalah hati yang di dalam dada.�  (Al-Hajj : 46)

2. Maksiat yang menyebabakan longsornya hati seperti longsornya tempat ke dalam bumi hingga menyebabkan jatuhnya hati pada derajat yang paling bawah.
Berbeda dengan lonssor fisik, longsor hati tidak bisa dirasakan oleh pemiliknya. Tanda-tanda longsornya hati adalah selalu berkeliling pada hal-hal yang hina, rendah, kotor, dan keji. Sebagaimana hati yang derajatnya diangkat oleh Allah akan selalu berputar pada kebaikan, kebajikan, hal-hal yang bernilai tinggi, amal, perkataan, dan akhlak yang baik.

3. Maksiat juga mengubah bentuk hati atau mengutuk sebagaimana dikutuknya sebuah bentuk fisik makhluk jadi binatang.
Akibatnya hati berubah menjadi bentuk binatang dalam perilaku, watak, dan kelakuannay. Ada hati yang dikutuk menjadi bentuk babi, anjing, khimar, ular, kal;ajengking atau yang lainnya karena keserupaan hati dengan watak-watak binatang tersebut. Atas dasar ini Sufyan Ats-Tsauri menafsirkan ayat-ayat
�dan tiadalah binatang-binatang yang ada dalam bumi dan burung-burung terbang dengan ke dua sayapnya melainkan umat-umat (surga) seperti kamu�.�   (QS. al-An�am : 38)

dengan, �Diantara mereka ada yang memiliki akhlak atau perilaku binatang buas biasa, ada juga yang memiliki perilaku anjing, perilaku babi, perilaku khimar, atau ada juga yang suka menghiasi pakaiannya seperti burung merak atau ada juga yang bodoh seperti khimar,dll.

Maha suci Allah, betapa banyak hati yang shalat tanpa dirasakan oleh pemiliknya, betapa banyak hati yang dikutuk dan hati yang longsor. Betapa banyak hati yang terfitnah oleh pujian manusia, orang yang tertipu karena perilakunya ditutup-tutupi oleh Allah, orang yang dikaruniai nikmat namun pelan-pelan akan dihancurkan oleh Allah. Ini semua adalah hukuman dan penghinaan Allah terhadap ahli maksiat. Akan tetepi orang-orang bodoh mengira bahwa semua itu adalah karomah/penghormatan dan pemuliaan dari Allah.

4. Allah SWT juga menjadikan makar bagi ahli maksiat, ia akan ditipu oleh para penipu, ditertawakan dan disesatkan dari jalan kebenaran oleh orang yang hatinya sesat.

5. Maksiat yang membalikkan hati.
Hati akan melihat kebenaran sebagai kebatilan dan kebatilan sebagai kebenaran, ma�ruf sebagai munkar dan munkar sebagai ma�ruf. Maksiat yang menghijab hati dari Allah di dunia dan hijab terbesar adalah ketika hari akhirat. Allah berfirman,
��sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka.�  (QS. Al-Muthaffifin : 15)

6. Dosa menghalangi seseorang untuk menempuh jarak menuju hati mereka.
Akibatnya mereka tidak mampu mengetahui bagaimana hati menjadi baik, suci dan mengetahui apa yang merusaknya. Jika seseorang mampu menuju hatinya maka ia selamat dan bahagia.

7. Maksiat juga mempersempit kehidupan di dunia, di alam barzah dan hari kiamat.
� Dan barang siapa berpaling dari peringatanKu maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.�  (QS. Thaha : 124 )

Hati tidak akan tenang, hidup tak akan bahagia dan jiwa yang tidak kan tenang melainkan dengan menjadi penyembah Allah adalah kebenaran dan yang selain Allah adalah kebatilan. Barang siapa yang tidak bahagia karena Allah maka jiwanya akan penuh keluh kesah karena dunia yang ia raih. Barang siapa yang merasa bahagia dengan Allah maka semua orang akan bahagia karenanya. Allah menjadikan kehidupan yang baik hanya untuk orang beriman dan beramal shaleh. Sebagaimana firman Allah :
�Barang siapa mengerjakan amal shaleh baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahal yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.� (QS. an-Nahl : 97)

Allah telah menjadikan jalan yang lurus sebagai cahaya bagi orang beriman dan rasulNya di dunia, dan juga nanti di akhirat di tengah gelapnya padng mahsyar.Allah menjaga cahaya tersebut sebagaimana menjaga keimanan mereka hingga mereka menemuiNya.

Allah menghakimi orang-orang yang berbuat maksiat serta menyiapkan gancu dan besi runcing diantara dua sisi jalan yang lurus untuk mencabik menyambar mereka. Sebagaimana kemaksiatan tersebut menyambar merekadari jalan yang lurus ( istiqamah ). Kecepatan sambaran gancu dan jeruji besi runcing itu sendiri di tentukan oleh tingkat kemaksiatan mereka.

Allah menyediakan telaga bagi orang-orang mukmin di akhirat sebagai balasan atas kepatuhan mereka �minimum� tuntunan Allah di dunia.

Saudaraku, Mari kita renungkan dan kita pikirkan hikmah Allah di dunia dan di akhirat, maka kita akan mengetahui dengan yakin tak ada keraguan di dalamnya, bahwa dunia ini adalah ladang bagi kehidupan akhirat. Dan kedudukan manusia di akhirat ditentukan oleh kedudukan mereka di dunia ini dari segi keimanan, amal shaleh atau sebaliknya. Dan hanya Allah lah yang memberikan jalan yang benar.

Sumber : http://ulet-ijoww.blogspot.com/2010_09_01_archive.html


Wallahu a�lam bish-shawabi... (hanya Allah yang Mahatahu Kebenarannya)
Jika terjadi kesalahan dan kekurangan disana-sini dalam catatan ini...
Itu hanyalah dari kami...

dan kepada Allah SWT, kami mohon ampunan...

Semoga Allah SWT. memberi kekuatan untuk kita amalkan.
Wassalam...

Semoga Bermanfaat
Silahkan SHARE ke rekan anda jika menurut anda notes ini bermanfaat...

Lampirkan sumbernya ya... Syukron

7 Pahala Selepas Mati

Dari Anas r.a berkata bahawa ada 7 macam pahala yang dapat diterima sesudah mati.
  1. Sesiapa yang mendirikan masjid maka ia tetap pahalanya selagi masjid itu digunakan untuk beramal ibadat di dalamnya.
  2. Sesiapa yang mengalirkan air sungai selagi ada orang yang minum darinya.
  3. Sesiapa yang menulis mushaf ia akan mendapat pahala selagi ada orang membacanya.
  4. Orang yang menggali perigi selagi ada orang yang menggunakannya.
  5. Sesiapa yang menanam tanaman selagi ada yang memakannya baik dari manusia atau burung.
  6. Mereka yang mengajarkan ilmu yang berguna selama ia diamalkan oleh yang mempelajarinya.
  7. Orang yang meninggalkan anak soleh yang mana ianya selalu mendoakan kedua orang tuanya dan beristighfar baginya yakni anak yang selalu diajari ilmu quran maka orang yang mengajarnya akan mendapat pahala selagi anak itu mengamalkan ajarannya tanpa mengurangi pahala anak itu sendiri.

Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah S.A.W. telah bersabda :
"Apabila telah mati anak Adam itu, maka terhentilah amalnya melainkan tiga macam :
1.    Sedekah yang berjalan terus (Sedekah Amal Jariah)
2.    Ilmu yang berguna dan diamalkan.
3.    Anak yang soleh yang mendoakan orang tuanya."

So, sahabat2 marilah kita sama2 beramal.. Untuk apa?? Sebagai bekalan kita sebelum bertemu Allah SWT.. Ingat dunia ini umpama ladang.. Ladang untuk kita menanam sebanyak mungkin pokok sebelum tibanya masa menuai.. Tanamlah pokok2 yang berkualiti dan bajailah dengan butir2 iman agar kita selamat didunia dan akhirat... Ameen.

Sumber : http://penjagaiman.blogspot.com/2010/07/7-pahala-selepas-mati.html


Wallahu a�lam bish-shawabi... (hanya Allah yang Mahatahu Kebenarannya)
Jika terjadi kesalahan dan kekurangan disana-sini dalam catatan ini...
Itu hanyalah dari kami...
dan kepada Allah SWT., kami mohon ampunan...

Semoga Allah SWT. memberi kekuatan untuk kita amalkan.
Wassalam...

Semoga Bermanfaat dan bisa kita ambil hikmahnya... amin
Silahkan COPY atau SHARE ke rekan anda jika menurut anda notes ini bermanfaat...

Lampirkan sumbernya ya... Syukron

Belajar dari Lampu Senter


Lampu senter, alat ini populer dikenal para satpam, dan petugas pos kamling. Lampu ini seolah menjadi perangkat wajib bila bertugas malam. Lampu senter menjadi alat penerangan alternatif di tengah kegelapan. Saat listrik padam, atau menyusuri lorong-lorong hutan lampu senter juga bak penyelamat. Perannya juga sangat dinantikan pada saat mencari benda asesoris kecil yang hilang di sudut-sudut ruangan sempit.

Memang, lampu senter ini menjadi vital saat malam hari tiba. Adapun di saat siang lampu ini tidak berguna. Tak ada bedanya menenteng lampu senter atau tidak di siang hari. Hal ini mengingat lampu senter adalah bekal yang hanya diperlukan pada saat yang tepat.

Namun demikian, perangkat ini harus selalu tersedia bila kita hendak berpetualang dalam gua-gua panjang. Begitu pun ketika menyusuri hutan, ataupun menolong korban bencana di pedalaman dalam waktu yang lama. Siapa saja yang enggan bersusah payah membawa senter di ranselnya, akibatnya baru terasa saat kegelapan mulai menyapa.

Belajar dari lampu senter ini, tak ubahnya dengan ibadah kita. Amal shalih dan ibadah kita juga hanya akan berfungsi dengan baik pada saat yang tepat. Di dunia ini, seolah tak ada beda antara ahli ibadah dan ahli maksiat. Logika awam akan mengatakan ibadah maupun tidak ibadah, sama � sama tidak akan membuat kaya bila tidak berikhtiar.

Pemandangan di depan mata justru memberikan kesan shalat seolah tidak bermanfaat. Padahal perbedaannya terletak pada saat kegelapan kiamat tiba. Shalat, zakat, qurban dan haji kita akan menjadi penerang. Ibadah kita ibarat lampu senter tadi, sebagai perbekalan pada saat tidak ada lagi penerangan dan syafaat.

Perjalanan panjang yang akan dilewati manusia sejatinya untuk ibadah. Pengabdian seorang hamba kepada Allah untuk menggapai ridha-Nya. Firman Allah,
�Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah.� (QS. Ad-Dzariat: 59)

Manusia berjuang mempersiapkan bekal terbaik untuk kehidupan yang akan datang. Namun ada saja yang merasa malu, dan malah enggan untuk mempersiapkan diri. Hal ini sebagaimana seseorang yang enggan membawa ransel perbekalan. Malu membawa lampu senter di siang hari, padahal perjalanan menyongsong malam sangat membutuhkan alat penerangan.

Tidak perlu enggan dan malu untuk menyiapkan bekal terbaik, demi menyongsong perjalanan menuju kampung akhirat. Allah berfirman,
�Berbekallah kalian, karena sesungguhnya sebaik- baik bekal adalah takwa.� (QS. Al-Baqarah: 197).

Sumber : http://ibnujafar86.wordpress.com/2011/01/11/belajar-dari-lampu-senter/


Wallahu a�lam bish-shawabi... (hanya Allah yang Mahatahu Kebenarannya)
Jika terjadi kesalahan dan kekurangan disana-sini dalam catatan ini...
Itu hanyalah dari kami...
dan kepada Allah SWT., kami mohon ampunan...

Semoga Allah SWT. memberi kekuatan untuk kita amalkan.
Wassalam...

Semoga Bermanfaat dan bisa kita ambil hikmahnya... amin
Silahkan COPY atau SHARE ke rekan anda jika menurut anda notes ini bermanfaat...

Lampirkan sumbernya ya... Syukron

Raja Sehari

Dahulu ada sebuah Kerajaan yang sangat aman, rakyatnya makmur dan sentosa. Raja ini selalu memperhatikan dan mementingkan kesejahteraan rakyatnya. Sang Raja selalu berkeliling negeri untuk melihat langsung kondisi rakyatnya.

Suatu Sang Raja mendengar rintihan seorang pemuda yang kelaparan. Si Ibu dengan suara lemah mengatakan kepada anaknya bahwa dia sudah tidak memiliki lagi persediaan makanan. Raja terkejutdi negerinya ada rakyatnya yang kelaparan.

Sang Raja berfikir sebentar. Kemudian dia membuat sebuah kesempatan untuk Sang pemuda. Dia memerintahkan prajuritnya. untuk secara diam-diam membawa sang anak ke istana ketika dia tidur, malam itu juga.

Ketika Pemuda itu tidur, secara diam-diam beberapa Prajurit membawa pemuda tanpa sepengatahuan siapapun termasuk pemuda itu sendiri.

Raja ingin memberikan jabatannya sebagai Raja selama sehari untuk si pemuda tersebut.Diaingin tahu apa yang akan dilakuakn si Pemuda.

Pagi harinya ketika terbangun dari tidurnya si anak heran, dimanakah dia berada? Segera beberapa pembantu istana menjelaskan bahwa dia saat ini di istana kerajaan dan diangkat menjadi Raja.

Para Pembantu istana sibuk melayaninya.Sementara itu di tempat terpisah si ibu kebingungan dan cemas karena dia mendapati anaknya hilang dari rumahnya. Di carinya kemana-mana tapi sang anak pujaan hati tetap tak ditemukannya. Siang harinya sambil menangis dan bercucuran air mata si ibu pergi ke istana Raja untuk meminta bantuan mencari anaknya ke pelosok negeri. Di gerbang istana si ibu tertahan oleh Para Penjaga istana dan tidak diijinkan untuk bertemu dengan Raja.

Namun demikian, seorang Penjaga itu masuk ke dalam dan memberi tahu kepada Sang Raja baru (Pemuda) bahwa di luar istana ada seorang ibu tua lusuh dan kelaparan yang sedang mencari anaknya yang hilang. Sang Raja kemudian memerintahkan untuk mensedekahkan satu karung beras kepada ibu tua miskin tersebut.

Malam harinya Sang Raja baru itu tidur kembali di kamarnya yang megah dan mewah.Tengah malam, Sang Raja yang asli dengan Para Pembantunya secara diam-diam kembali memindahkan pemuda yang sedang tidur lelap itu kembali ke rumah ibunya.

Esok pagi si ibu sangat gembira karena telah menemukan kembali anaknya yang hilang kemarin. Sebaliknya si Pemuda heran kenapa dia ada disini kembali. Si ibu bercerita bahwa kemarin dia mencarinya kesana-kemari hingga pergi ke istana untuk minta bantuan, dan pulangnya dia diberi oleh Raja sekarung beras. Si Anak segera menyadari bahwa dialah kemarin yang memberi sekarung beras itu.

Kemudian bergegas dia pergi ke istana dan menghadap Raja, dengan lugu dia minta diangkat kembali menjadi raja. Walau cuma sehari .Sang Raja segera menolak dengan mengatakan bahwa waktu/kesempatannya menjadi raja sudah habis.

Si Pemuda tetap memohon,sambil menghiba-hiba Pemuda itu minta hanya sejam saja bahkan beberapa menit saja, tetapi Sang Raja tetap menolak

Sang Pemuda pulang dengan hati penuh penyesalan.Kenapa dia sangat kikir dulu, seandainya dia dermawan maka tidak hanya sekarung beras yang dia kirim tetapi mungkin berton-ton beras yang dia kirim.


Tahukah akhi/ukhti ?..
Itulah analogi kehidupan kita sekarang. Kelak di akhirat ada orang-orang menyesal. Mereka tidak pernah beramal untuk akhirat. Mereka tidak pernah mengirim beras ( pahala ) yang banyak untuk kampung akhirat mereka.

Mereka meminta kesempatan untuk kembali ke dunia, agar bisa beramal sebaik mungkin... tapi, itu tidak mungkin... karna hidup hanya sekali.

Maka, mari kita optimalkan kehidupan didunia ini yang hanya sekali, untuk ibadah dan kebaikan. Karena kita tidak tau kapan ajal menjemput kita. Bisa saja, hari ini adalah hari terakhir kita... maka, kenapa kita masih saja berbuat dosa, dan masih ragu dan malas tuk beribadah kepada-Nya?

Begitu banyak kasih sayang Allah Tuhan kita, dengan kasih sayang yang berbentuk berbagai peringatan-peringatan yang datang kepada kita.

Ya, Mungkin tulisan ini adalah yang kesekian ribu peringatan kasih sayang-Nya....

Tinggal diri kita,... apakah akan kita abaikan peringatan dan kesempatan itu hingga kesempatan itu habis?

Sumber : http://www.awansmart.co.cc/2010/07/raja-sehari.html


Wallahu a�lam bish-shawabi... (hanya Allah yang Mahatahu Kebenarannya)
Jika terjadi kesalahan dan kekurangan disana-sini dalam catatan ini...
Itu hanyalah dari kami...
dan kepada Allah SWT., kami mohon ampunan...

Semoga Allah SWT. memberi kekuatan untuk kita amalkan.
Wassalam...

Semoga Bermanfaat dan bisa kita ambil hikmahnya... amin
Silahkan COPY atau SHARE ke rekan anda jika menurut anda notes ini bermanfaat...

Lampirkan sumbernya ya... Syukron

Surga itu Tidak Gratis

Bukan Untuk Orang Yang Malas

Meraih surga yang dijanjikan oleh Allah swt adalah impian setiap muslim, tapi sayangnya 'kavling' surga tidak dibagikan secara gratis. Surga hanya diwariskan kepada hamba-hambaNya yang beriman (baca: berilmu) & beramal soleh. Iman tanpa amal merupakan sebuah dusta, dan amal tanpa iman merupakan perbuatan sia-sia. Amal yang diterima oleh Allah swt, pertama, harus didasarkan rasa ikhlas, semata-mata sebagai bentuk implementasi pengabdian diri seorang hamba kepada Tuhannya dan kedua, harus benar ilmunya, yaitu sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh Allah swt. Manusia tidak diberi sedikitpun hak untuk �menciptakan� suatu bentuk ibadah apapun selain apa yang telah ditentukan dariNya baik melalui Kalam-Nya (Al-quran) maupun perbuatan atau perkataan yang dicontohkan oleh RasulNya (as-Sunnah),

"Apakah mereka mempunyai para sekutu yang mensyari�atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?.� (QS. 42:21)

Rasa Ikhlas merupakan urusan antara seorang hamba dengan Allah swt, orang lain tidak akan mungkin mengetahui apakah seseorang yang sedang melakukan perbuatan amaliah, didasari rasa ikhlas atau tidak. Masalah hati adalah urusanNya, hanya Dialah yang menggenggam dan membolak-balikkan hati setiap manusia. Jadi lebih utama jika kita selalu mengedepankan sikap berbaik sangka.

Berbeda dengan ikhlas, benar atau tidaknya suatu perbuatan amaliah dapat diketahui oleh setiap manusia. Tentunya manusia yang mengoptimalkan kerja akal dan panca inderanya.

Ilmu harus lebih diutamakan daripada amal, karena ilmu-lah yang memberikan petunjuk dan �mengawal� arah amal yang kita lakukan agar tidak melenceng dari �garis� yang telah ditentukan yaitu Al-quran dan as-Sunnah.

Rasulullah saw bersabda,  
�Ilmu itu pemimpin, dan amal adalah pengikutnya."

Oleh karena itu, hendaknya kita membekali diri dengan ilmu sebelum beramal, setidaknya kita mengetahui �dalil�nya, bukan hanya sekedar menuruti apa kata orang lain atau mengikuti apa yang sudah menjadi kebiasaan turun temurun,

"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya." (QS. 17:36)

"Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: ", tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari nenek moyang kami". ", walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?"." (QS. 2:170)

Ironisnya, kita seringkali menuruti apa kata orang lain atau tidak jarang mengikuti apa yang sudah menjadi kebiasaan umum. Contoh dalam kehidupan sehari-hari adalah dalam pelaksanaan sholat jamaah, seringkali kita jumpai, posisi antara imam dan makmum tidak mengikuti tauladan yang diberikan oleh Rasulullah saw, terutama untuk jamaah 2 orang lelaki. Posisi sholat berjamaah menurut Rasulullah saw dijelaskan oleh Ibnu Abbas ra, yaitu

Ibnu Abbas ra berkata,
"Aku shalat bersama Nabi SAW di suatu malam, aku berdiri di samping kirinya, lalu Nabi memegang bagian belakang kepalaku dan menempatkan aku di sebelah kanannya." (HR Bukhari)

Setiap muslim menyadari bahwa sholat yang mereka lakukan mengikuti apa yang Rasul ajarkan, seperti sabda beliau saw, "Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat�. Tapi seringkali dalam prakteknya kita lebih condong untuk �mengikuti� orang lain. Hal ini disebabkan antara lain karena kita seringkali malas mencari ilmu tentang agama, seolah-olah ilmu agama dapat kita ketahui secara alamiah, seolah-olah yang tahu masalah agama hanyalah ustadz atau ulama saja, seolah-olah sejak lahir kita telah pandai mengaji atau sholat, sehingga tidak perlu mengevaluasi sholat kita. Lucunya kita malah bersusah payah mencari ilmu dunia, meremehkan ilmu agama.

Sebuah ironi ketika lisan berucap menginginkan surga tapi perbuatan kita lebih condong kepada cinta dunia.

Mencari ilmu adalah wajib hukumnya bagi setiap muslim, Alquran mendorong setiap muslim untuk menjadi orang yang berilmu, beramal dan mengajarkan ilmunya,

"... akan tetapi (dia) berkata, 'Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani (yang sempurna ilmu dan taqwanya kepada Allah), karena kamu selalu mengajarkan al-Kitab dan disebabkan kamu telah mempelajarinya."  (QS. 3:79)

Hendaknya kita optimalkan segenap anugrah yang Allah berikan kepada kita yaitu akal dan panca indera untuk meraih ilmu yang bermanfaat dunia-akhirat. Gunakan sepasang mata yang indah ini untuk banyak membaca, telinga untuk rajin mendengar, dan sepasang kaki yang dilangkahkan ke majelis-majelis, perpustakaan ataupun toko buku. Setiap muslim hendaknya jangan malu untuk bertanya,

"maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,..."  (QS. 16:43)

Berusahalah... karena agama ini diturunkan bukan untuk orang yang malas.

Sumber : http://akuinginmenulis.blogspot.com/2008/09/agama-bukan-untuk-orang-yang-malas_02.html


Surga itu Tidak Gratis

 
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk jannah (surga), padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa malapateka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata: �Bilakah datangnya pertolongan Allah.� Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah amat dekat.�  (Al-Baqarah: 214).


Khabbab bin Arat ra, berteriak lantang: �Memang, ia (Muhammad) adalah utusan Allah kepada kita, untuk membebaskan dari kegelapan menuju terang benderang.� Sebuah deklarasi keimanan justru saat dakwah Rasulullah baru pada fase sirriyah dan lemah. Pernyataan itu diperdengarkan di depan segerombol kafir Quraisy. Kontan, mereka murka mendengarnya. Khabbab, si pandai besi itu sadar akan resiko yang ia hadapi. Tak ayal, mereka memukuli dan menyiksanya. Ia terhuyung tak sadarkan diri. Tubuhnya bengkak-bengkak. Seluruh tulang persendiannya terasa nyeri. Darah mengalir membasahi pakaian dan tubuhnya.

Ini bukan akhir Khabbab menuai siksaan. Onggokan besi, bahan baku pedang, di rumahnya menjadi senjata makan tuan. Kafir Quroisy mengubahnya menjadi alat siksa yang mengerikan. Mereka masukkan besi ke dalam api hingga merah membara. Dililitkannya besi menyala itu pada kedua tangan dan kaki Khabbab. Sakit tiada terkira. Namun, semua itu tak menjadikan ia bergeming dari keimanan.

Derita Khabbab belum usai. Ummi Anmar, bekas majikannya, turun tangan. Wanita jalang itu menyiksa dan menderanya. Ia mengambil besi panas yang menyala dan meletakkannya di ubun-ubun Khabbab. Ia menggeliat kesakitan. Nafas tetap ditahan agar tak keluar keluhan, karena keluhan hanya akan menjadikan para algojo bersorak-sorak.

Sampai suatu ketika Khabbab datang menghadap Rasulullah saw di bawah naungan Ka�bah. �Wahai Rasulullah! tidakkah Anda memohonkan pertolongan bagi kami? Usul Khabbab. Rasulullah duduk, raut mukanya memerah seraya bersabda: �Dahulu sebelum kalian, ada orang disiksa dengan dikubur hidup-hidup. Ada yang kepalanya digergaji menjadi dua bagian. Ada pula yang kepalanya disisir dengan sikat besi hingga kulit kepalanya terkelupas. Tetapi siksaan-siksaan itu tidak memalingkan mereka dari agamanya. Demi Allah, Allah pasti akan mengakhiri persoalan ini, sehingga orang berani berjalan dari Shan�a ke Hadramaut tanpa rasa takut kepada siapa pun selain Allah, walaupun srigala ada di antara hewan gembalaannya, tetapi kalian tampak terburu-buru.�

Itulah sepenggal episode kehidupan Khabbab r.a. Pada awal dakwah Islam, penyiksaan bahkan dialami oleh Rasulullah saw sendiri beserta para sahabat yang lain. Mungkin kita bertanya, mengapa Rasulullah saw dan para sahabatnya harus merasakan penyiksaan, sedangkan mereka berada pada pihak yang benar? Mengapa pula Allah Ta�ala tidak melindungi mereka, padahal mereka adalah tentara-tentara Allah, bahkan kekasih-Nya berada ditengah-tengah mereka?
Manusia dicipta bukan tanpa tujuan. Allah bermaksud mencipta manusia untuk beribadah kepada-Nya.  
�Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepada-Ku.�  (Adz-Dzariyat: 56).
Beribadah itulah tujuan utama penciptaan manusia.

Sifat dasar ubudiyah adalah taklif (beban). Dalam Islam, orang yang akil baligh biasa disebut mukallaf, artinya, orang yang dibebani. Dengan demikian ubudiyah mengharuskan adanya taklif, sedang taklif menuntut adanya kesiapan menanggung beban dan perlawanan terhadap hawa nafsu dan syahwat. Taklif tersebut, tersimpul dalam kalimat laailaaha illallah, yang bermakna tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain hanya Allah. Meski kalimat tersebut singkat, namun ia bermakna padat. Ia mengandungi totalitas penetapan (itsbat) atas obyek peribadatan, meliputi tujuan (qasd), niat, pengagungan (ta�dhim), pengharapan (raja�), dan takut (khauf) hanya tertuju kepada Allah semata. Kalimat tersebut juga mengandungi totalitas pengingkaran (nafyu) atas obyek peribadatan kepada selain Allah yang meliputi sesembahan yang diyakini dapat mendatangkan manfaat dan madharat (aalihah), makhluk yang rela diibadahi, diikuti, dan ditaati (taghut), fatwa atau jalan hidup yang menyelisihi Islam (arbaab), dan segala yang dapat memalingkan manusia dari Allah, seperti harta, tempat tinggal, dan keluarga (andaad).

Dengan demikian, berislam memang (seharusnya) menumbuhkan sikap revolusioner. Konsekuensi berislam, adalah tuntutan memenuhi segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya, baik menyangkut ubudiyah mahdlah atau ghairu mahdlah. Juga, ubudiyah harus murni hanya kepada Allah. Dus, harus menolak beribadah kepada selain-Nya, baik dari golongan jin maupun manusia. Hal ini tentu membawa potensi ancaman yang beragam, terutama dari unsur-unsur yang diingkari untuk diibadahi, baik dari golongan jin maupun manusia. Di sinilah maksud taklif menuntut adanya kesiapan menanggung beban dan perlawanan.

Jadi, memang sejak semula manusia diciptakan untuk siap menanggung beban, ujian, dan cobaan. Karena jannah yang dijanjikan Allah tidaklah gratis, melainkan harus ditebus dengan berislam, lengkap dengan segala konsekuensi yang harus dipenuhi dan resiko yang harus dihadapi.

�Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk jannah (surga), padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa malapateka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan berbagai cobaan) sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata: �Bilakan datangnya pertolongan Allah.� Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah amat dekat.� (Al-Baqarah: 214).

Lantas apa maksud Allah? bukankah bagi-Nya segala sesuatu mudah jika mengendaki? hanya dengan kalimat kun fayakun(Jadilah! maka akan terjadi), termasuk mudah bagi Allah jika Dia menghendaki Islam tegak di muka bumi, juga mudah bagi-Nya jika mengendaki seluruh manusia memeluk Islam�?

Sengaja Allah tidak membuat semuanya berjalan mulus, Dia bermaksud menguji hamba-hambanya hingga dapat dibuktikan siapa yang mukmin dan siapa yang munafik, siapa yang jujur dan siapa yang dusta? Berislam secara lisan belaka, tanpa ada konsekuensi-konsekuensi tertentu, tentu akan sulit membedakan antara yang sungguh-sungguh dengan yang berpura-pura. Di sinilan relevansi mekanisme ujian dan cobaan bagi seorang hamba.

�Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan: �Kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji lagi?� Sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sungguh Allah mengetahui orang-orang yang benar, dan sungguh Allah mengetahui orang-orang yang dusta.�(Al-Ankabut: 2�3).

Sumber : http://ldkarrahmanunja.wordpress.com/2010/12/31/surga-itu-tidak-gratis/

Hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda,
�barangsiapa yang membaca Subhanallah wa bihamdihi sebanyak 100 kali dipagi dan sore hari, maka dihari kiamat nanti tidak ada seorangpun  yang lebih istimewa darinya kecuali orang yang membacanya lebih dari apa yang dibacanya." (H.R Imam Muslim)

Wallahu a�lam bish-shawabi... (hanya Allah yang Mahatahu Kebenarannya)
Jika terjadi kesalahan dan kekurangan disana-sini dalam catatan ini...
Itu hanyalah dari kami...
dan kepada Allah SWT., kami mohon ampunan...

Semoga Allah SWT. memberi kekuatan untuk kita amalkan.
Wassalam...

Semoga Bermanfaat dan bisa kita ambil hikmahnya... amin
Silahkan COPY atau SHARE ke rekan anda jika menurut anda notes ini bermanfaat...

Lampirkan sumbernya ya... Syukron