Sabtu, 24 Agustus 2013

Dosakah jika seorang istri selingkuh?

Berusaha untuk menjadi istri yang shalihah; karena istri yang shalihah merupakan sebaik-baik perhiasan bagi seorang suami

Pertanyaan:

Saya mau bertanya sama ustadz, apakah dosa jika seorang istri selingkuh? Dan bagaimana caranya agar kita seorang istri bisa menjadi istri sholehah? Terima kasih ustad atas jawabannya.



Jawaban:

Mbak yang disayang Allah.

Semua perbuatan yang dilarang oleh Allah adalah perbuatan dosa. Seorang istri yang selingkuh, artinya menjalin hubungan cinta dengan laki-laki lain yang bukan makhramnya.

Jelas ini merupakan tindakan dosa. Mengapa?

1. Karena seorang istri telah mengkhianati ketentuan Allah dan Rasul-Nya, sekaligus menghianati kepercayaan suaminya.


�Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui�. (QS. Al-Anfal [8]: 27)

2. Melanggar larangan Allah, yaitu menghampiri zina baik dilakukan dengan zina mata, zina hati. Lebih-lebih zina fisik merupakan salah satu diantara dosa besar.


�Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk�. (QS. Al-Isra� [17]: 32)

?????????????? ??????????? ???????????? ????????? (???? ????)

�Dua mata itu bisa berzina, dan zinanya mata adalah dengan melihat�. (HR. Bukhari)

3. Allah melarang dua orang dewasa berlawanan jenis menyepi tanpa ditemani oleh makhramnya.


???? ????? ???????? ????????? ??????????? ??????? ????? ??????????? ??????????? ?????? ??????? ??? ???????? ??????? ??????? ???????????? ???????????? (???? ????)

�Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah sekali-kali berduaan dengan wanita yang tidak disertai makhram, karena sesungguhnya yang ketika adalah syaithan�. (HR. Ahmad)

Apa yang mesti mbak lakukan? Berusaha untuk menjadi istri yang shalihah; karena istri yang shalihah merupakan sebaik-baik perhiasan bagi seorang suami.

????? ?????????? ???????? ??????? ???????? ??????? ?????????? ??????????? ???????????? (???? ????)

�Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah�. (HR. Ahmad)

Bagaimana ciri-ciri istri yang shalihah itu?

Tentunya ia seorang istri yang melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya dalam seluruh aspek kehidupannya. Tetapi dalam kaitannya dengan kewajiban terhadap suami, secara spesifik dijelaskan oleh Rasulullah didalam hadits beliau. Diantaranya adalah:

????? ?????????? ???????? ??? ???????? ????????? ??????????? ???????????? ????? ?????? ????????? ????????? ??????? ????????? ??????????? ??????? ????? ??????? ?????????? (???? ??? ????)

�Maukah aku tunjukkan sesuatu yang lebih baik yang dimiliki oleh seseorang? Yaitu istri yang shalihah, jika dilihat menyenangkan, jika diperintah (kebaikan) ia mentaatinya, jika ditinggal maka ia memelihara (kehormatan) dirinya� . (HR. Abu Daud)

Demikian penjelasan saya, semoga mbak diberi Allah keistiqomahan untuk menyempurnakan diri sebagai istri yang shalihah.

Wassalam,

Pengasuh: Ust. H. Ainur Rofiq
http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&view=article&id=9878:dosakah-jika-seorang-istri-selingkuh-&catid=113:ainur-roriq&Itemid=80

BELAJAR DARI PADI

By : Dimas Septiawan

�Jadilah seperti padi, semakin berisi, semakin menunduk�,

peribahasa yang demikian sering kita dengar, namun tak banyak dari kita yang mempraktekannya. Tak hanya peribahasa di atas yang dapat kita pelajari. So, read kindly, apply and enjoy it!

1. Pertama,Kita belajar dari cara penanaman pada, yaitu menanamnya dengan cara berjalan mundur. Di sini, kita tidak belajar dari cara berjalannya yang mundur, karena dalam hidup kita diharuskan untuk maju dan semakin maju. Yang dapat kita pelajari ialah, seorang petani, berjalan mundur sedang matanya tertuju ke depan. Dari hal ini, kita mendapat nasehat penting, yaitu:  

Pandangan kita dalam sebuah kita kehidupan, haruslah memandang ke depan, dan melihat pekerjaan yang telah kita lakukan (dalam hal ini petani memandang pada padi yang sudah ia tanam di depannya, karena petani berjalan mundur saat menanam padi).

Dengan maksud, kita diharuskan: 
bersyukur kepada Tuhan, atas pimpinannya pada apa yang telah kita lakukan. Dan jika disaat yang lalu, Tuhan telah menolong kita, percayalah bahwa hari depan Tuhan masih akan tetap menolong kita, (dalam hal ini, padi kita umpamakan sebagai hasil kerja kita bersama Tuhan).

2. Kedua,

Saat tanaman padi bertumbuh, tumbuh pula ilalang bersamanya, pasti terdapat juga hama yang akan membuat pertumbuhan tanaman padi terganggu, dan membuat petani menyemprotkan pestisida dsb, untuk membunuh hama dan qulma. Begitupulah dengan kehidupan kita, saat kita bertumbuh secara psikis, akan selalu ada pribadi yang memang harus ada untuk membentuk karakter kita, dan kita akan dibuatnya merasa tidak nyaman dan cenderung mengekspresikan 5 emosi dasar yang ada secara tak terkontrol. Mengutip kata seorang motivator yang berkata, 
�Pribadi yang direncanakan naik, akan selalu diganggu untuk turun�,

dengan pengertian, kita semua diciptakan untuk naik (dalam kondisi lebih mulia), lalu datanglah si jahat untuk membuat kita terjatuh dan berbalik dari rencana indah Tuhan. Namun, jika kita tidak merasakan ada gangguan atau godaan, segaralah sadar! Karena kemungkinan  hati nurani kita telah tumpul dan menganggap hal yang salah (dosa) itu sebagai suatu yang biasa kita lakukan, bukan lagi sebagai suatu yang membuat kita terpuruk. Namun, jika kita merasa berada pada tempat, dimana kita diuji sebagai pembentukan karakter kita,  Tuhan akan menolong kita dan membuat semua pengganggu kita menjadi tangga naik kita dan hidup kita lebih berkualitas.

3. Ketiga,
Padi telah cukup masak dan berisi sehingga membuat padi itu menunduk. Hal inilah telah kita ketahui, seperti yang sudah saya tulis tadi. Namun, tetap saja kita mengenal dengan benar apa yang dimaksud dengan padi yang berisi tersebut menunduk atau orang yang rendah hati itu seperti yang bagaimana? Sederhananya,  orang yang rendah hati jarang sekali mengambil contoh dirinya sendiri untuk menasehati orang lain, dan menganggap bahwa ia jauh lebih baik. 

4. Keempat,
Pasa penuaian dan saat petani akan menampih kita. Sebuah tanaman padi bila bertahan sebagai orang yang rendah hati dalam masa ujian sekalipun, akan membuat hati petani menjadi senang. Hal demikian juga terjadi dalam kehidupan kita. Mampukah kita survive, sampai Tuhan menuai kita dari dunia dan menempatkan kita di sorga?

Begitulah, apa yang bisa saya bagikan kepada anda untuk menginspirasikan hidup anda.

So, nasehatnya:
Bersyukurlah kepada apapun yang telah diperbolehkan Tuhan dalam hidup kita. Bahkan dari sebuah tanaman yang IA telah ciptakan dapat membuat kita lebih mengerti tentang kehidupan. Dan percayalah selalu, bahwa rancangan Tuhan ialah rancangan damai sejahtera!

Sumber : http://dimasseptiawan.pun.bz/post/27.xhtml


Wallahu a�lam bish-shawabi... (hanya Allah yang Mahatahu Kebenarannya)

Jika terjadi kesalahan dan kekurangan disana-sini dalam catatan ini...
Itu hanyalah dari kami...
dan kepada Allah SWT., kami mohon ampunan...

Semoga Allah SWT. memberi kekuatan untuk kita amalkan.
Wassalam...

Semoga Bermanfaat dan bisa kita ambil hikmahnya... amin
Silahkan COPY atau SHARE ke rekan anda jika menurut anda notes ini bermanfaat...

Catatan :
Lampirkan Sumbernya ya... Syukron

Keutamaan Shalat Tahajud (Shalat Malam)

Shalat malam, bila shalat tersebut dikerjakan sesudah tidur, dinamakan shalat Tahajud, artinya terbangun malam. Jadi, kalau mau mengerjakansholat Tahajud, harus tidur dulu. Shalat malam (Tahajud) adalah kebiasaan orang-orang shaleh yang hatinya selalu berdampingan denganAllah SWT.

Berfirman Allah SWT di dalam Al-Qur�an : 
�Pada malam hari, hendaklah engkau shalat Tahajud sebagai tambahan bagi engkau. Mudah-mudahan Tuhan mengangkat engkau ketempat yang terpuji.� (QS : Al-Isro� : 79)

Shalat Tahajud adalah shalat yang diwajibkan kepada Nabi SAW sebelum turun perintah shalat wajib lima waktu. Sekarang shalat Tahajud merupakan shalat yang sangat dianjurkan untuk dilaksanakan.

Sahabat Abdullah bin Salam mengatakan, bahwa Nabi SAW telah bersabda : 
�Hai sekalian manusia, sebarluaskanlah salam dan berikanlah makanan serta sholat malamlah diwaktu manusia sedang tidur, supaya kamu masuk Sorga dengan selamat.� (HR. Tirmidzi)

Bersabda Nabi Muhammad SAW : 
�Seutama-utama shalat sesudah shalat fardhu ialah shalat sunnat di waktu malam.� (HR. Muslim)

Waktu Untuk Melaksanakan Sholat Tahajud :
Kapan afdhalnya shalat Tahajud dilaksanakan ? Sebetulnya waktu untuk melaksanakan shalat Tahajud ( Shalatul Lail ) ditetapkan sejak waktu Isya� hingga waktu subuh ( sepanjang malam ). Meskipun demikian, ada waktu-waktu yang utama, yaitu :
1. Sangat utama : 1/3 malam pertama ( Ba�da Isya � 22.00 )
2. Lebih utama : 1/3 malam kedua ( pukul 22.00 � 01.00 )
3. Paling utama : 1/3 malam terakhir ( pukul 01.00 � Subuh )

Menurut keterangan yang sahih, saat ijabah (dikabulkannya do�a) itu adalah 1/3 malam yang terakhir.

Abu Muslim bertanya kepada sahabat Abu Dzar : � Diwaktu manakah yang lebih utama kita mengerjakan sholat malam?� Sahabat Abu Dzar menjawab : �Aku telah bertanya kepada Rosulullah SAW sebagaimana engkau tanyakan kepadaku ini.� Rosulullah SAW bersabda : 
�Perut malam yang masih tinggal adalah 1/3 yang akhir. Sayangnya sedikit sekali orang yang melaksanakannya.� (HR. Ahmad)

Bersabda Rosulullah SAW : 
�Sesungguhnya pada waktu malam ada satu saat (waktu.). Seandainya seorang Muslim meminta suatu kebaikan didunia maupun diakhirat kepada Allah SWT, niscaya Allah SWT akan memberinya. Dan itu berlaku setiap malam.�   (HR. Muslim)

Nabi SAW bersabda lagi : 
�Pada tiap malam Tuhan kami Tabaraka wa Ta�ala turun ( ke langit dunia ) ketika tinggal sepertiga malam yang akhir. Ia berfirman : � Barang siapa yang menyeru-Ku, akan Aku perkenankan seruannya. Barang siapa yang meminta kepada-Ku, Aku perkenankan permintaanya. Dan barang siapa meminta ampunan kepada-Ku, Aku ampuni dia.�  (HR Bukhari dan Muslim)

Jumlah Raka�at Shalat Tahajud :
Shalat malam (Tahajud) tidak dibatasi jumlahnya, tetapi paling sedikit 2 (dua) raka�at. Yang paling utama kita kekalkan adalah 11 (sebelas) raka�at atau 13 (tiga belas) raka�at, dengan 2 (dua) raka�at shalat Iftitah. Cara (Kaifiat) mengerjakannya yang baik adalah setiap 2 (dua) rakaat diakhiri satu salam. Sebagaimana diterangkan oleh Rosulullah SAW : 
�Shalat malam itu, dua-dua.�   (HR Ahmad, Bukhari dan Muslim)

Adapun Kaifiat yang diterangkan oleh Sahabat Said Ibnu Yazid, bahwasannya Nabi Muhammad SAW shalat malam 13 raka�at, sebagai berikut :
1) 2 raka�at shalat Iftitah.
2) 8 raka�at shalat Tahajud.
3) 3 raka�at shalat witir.

Adapun surat yang dibaca dalam shalat Tahajud pada raka�at pertama setelah surat Al-Fatihah ialah Surat Al-Baqarah ayat 284-286. Sedangkan pada raka�at kedua setelah membaca surat Al-Fatihah ialah surat Ali Imron 18-19 dan 26-27. Kalau surat-surat tersebut belum hafal, maka boleh membaca surat yang lain yang sudah dihafal.Rasulullah SAW bersabda : 
�Allah menyayangi seorang laki-laki yang bangun untuk shalat malam, lalu membangunkan istrinya. Jika tidak mau bangun, maka percikkan kepada wajahnya dengan air. Demikian pula Allah menyayangi perempuan yang bangun untuk shalat malam, juga membangunkan suaminya. Jika menolak, mukanya disiram air.� (HR Abu Daud)

Bersabda Nabi SAW : 
�Jika suami membangunkan istrinya untuk shalat malam hingga keduanya shalat dua raka�at, maka tercatat keduanya dalam golongan (perempuan/laki-laki) yang selalu berdzikir.� (HR Abu Daud)

Keutamaan Shalat Tahajud :
Tentang keutamaan shalat Tahajud tersebut, Rasulullah SAW suatu hari bersabda : 
�Barang siapa mengerjakan shalat Tahajud dengan sebaik-baiknya, dan dengan tata tertib yang rapi, maka Allah SWT akan memberikan 9 macam kemuliaan : 5 macam di dunia dan 4 macam di akhirat.�

Adapun lima keutamaan didunia itu, ialah :
  1. Akan dipelihara oleh Allah SWT dari segala macam bencana.
  2. Tanda ketaatannya akan tampak kelihatan dimukanya.
  3. Akan dicintai para hamba Allah yang shaleh dan dicintai oleh semua manusia.
  4. Lidahnya akan mampu mengucapkan kata-kata yang mengandung hikmah.
  5. Akan dijadikan orang bijaksana, yakni diberi pemahaman dalam agama.

Sedangkan yang empat keutamaan diakhirat, yaitu :
  1. Wajahnya berseri ketika bangkit dari kubur di Hari Pembalasan nanti.
  2. Akan mendapat keringanan ketika di hisab.
  3. Ketika menyebrangi jembatan Shirotol Mustaqim, bisa melakukannya dengan sangat cepat, seperti halilintar yang menyambar.
  4. Catatan amalnya diberikan ditangan kanan.

Sumber : http://elmudunya.wordpress.com/2010/06/26/1134/
Sumber : http://mahmudshah.wordpress.com/2010/11/05/solat-tahajjud-dan-perspektif-perubatan/


Wallahu a�lam bish-shawabi... (hanya Allah yang Mahatahu Kebenarannya)

Jika terjadi kesalahan dan kekurangan disana-sini dalam catatan ini...
Itu hanyalah dari kami...
dan kepada Allah SWT., kami mohon ampunan...

Semoga Allah SWT. memberi kekuatan untuk kita amalkan.
Wassalam...

Semoga Bermanfaat dan bisa kita ambil hikmahnya... amin
Silahkan COPY atau SHARE ke rekan anda jika menurut anda notes ini bermanfaat...

Catatan :
Lampirkan Sumbernya ya... Syukron

17 Amalan Penghapus Dosa

Manusia pasti berbuat dosa dan pasti butuh ampunan Allah. Oleh karena itu Allah memberikan keutamaan dan kemurahan kepada hambaNya dengan mensyariatkan amalan-amalan yang dapat menghapus dosa disamping taubat. Sebagiannya dijelaskan dalam Al Qur�an dan sebagiannya lagi dalam Sunnah Rasulullah Shallallahu�alaihi Wasallam.Diantaranya sebagai berikut:
1. Menyempurnakan wudhu dan berjalan ke masjid, sebagaimana disampaikan Rasulullah Shallallahu�alaihi Wasallam: �Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang dapat menghapu dosa dan mengangkat derajat. Mereka menjawab: ya wahai rasululloh. Beliau berkata: menyempurnakan wudhu ketika masa sulit dan memperbanyak langkah kemasjid serta menunggu shalat satu ke shalat yang lain, karena hal itu adalah ribath�  (HR Muslim dan Al Tirmidzi).

Juga dalam sabda beliau yang lain: �Jika seseorang berwudhu lalu menyempurnakan wudhunya kemudian berangkat sholat dengan niatan hanya untuk sholat, maka tidak melangkah satu langkah kecuali Allah angkat satu derajat dan hapus satu dosa�  (HR. Al Tirmidzi).

2. Puasa hari Arafah dan A�syura�, dalilnya: 
�Nabi Bersabda: Puasa hari Arafah saya berharap dari Allah untuk menghapus setahun yangsebelumnya dan setahun setelahnya dan Puasa hari A�syura saya berharap dari Allah menghapus setahun yang telah lalu�  (HR. At Tirmidzi dan di-shahih-kan Al Albani dalam Shahih Al Jaami� no. 3853)

3. Shalat tarawih di bulan Ramadhan, dengan dalil sabda Rasulullah Shallallahu�alaihi Wasallam:  
�Siapa yang menegakkan romadhon (shalat tarawih) dengan iman dan mengharap pahala Allah maka diampunilah dosanya yang telah lalu�  (Muttafaqun �Alaihi)

4. Haji yang mabrur, dengan dalil: 
�Siapa yang berhaji lalu tidak berkata keji dan berbuat kefasikan maka kembali seperti hari ibunya melahirkannya�  (HR. Al Bukhari)

dan sabda beliau: 
�Haji mabrur balasannya hanyalah surga�  (HR. Ahmad).

5. Memaafkan hutang orang yang sulit membayar, dengan dalil:
�Dari Hudzaifah beliau berkata Allah memanggil seorang hambaNya yang Allah karuniai harta. Maka Allah berkata kepadanya: Apa yang kamu kerjakan didunia? Ia menjawab: Wahai Rabb kamu telah menganugerahkanku hartaMu lalu aku bermuamalah dengan orang-orang. Dan dahulu akhlakku adalah memaafkan, sehingga aku dahulu mempermudah orang yang mampu dan menunda pembayaran hutang orang yang sulit membayar. Maka Allah berfirman: Aku lebih berhak darimu maka maafkanlah hambaKu ini� (HR. Muslim).

6. Melakukan kebaikan setelah berbuat dosa, dengan dalil: 
�Bertakwalah kepada Allah dimanapun kamu berada, ikutilah kejelekan dengan kebaikan yang menghapusnya dan pergauli manusia dengan etika yang mulia�  (HR Al Tirmidzi dan Ahmad dan dishohihkan Al Albani dalam Shohih Al Jaami� no. 97.)

7. Memberi salam dan berkata baik, dengan dalil sabda Rasulullah Shallallahu�alaihi Wasallam: 
�Sesungguhnya termasuk sebab mendapatkan ampunan adalah memberikan salam dan berkata baik� (HR Al Kharaithi dalam Makarim Al Akhlak dan di-shahih-kan Al Albani dalam Silsilah Al Ahadits Al Shahihah, no. 1035)

8. Sabar atas musibah dengan, dalil sabda Rasulullah Shallallahu�alaihi Wasallam: 
�Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla berfirman: Sungguh Aku bila menguji seorang hambaKu yang mukmin, lalu ia memujiku atas ujian yang aku timpakan kepadanya, maka ia bangkit dari tempat tidurnya tersebut bersih dari dosa seperti hari ibunya melahirkannya�  (HR Ahmad, dan dihasankan Al Albani dalam Silsilah Al Ahadits Al Shohihah no. 144).

9. Menjaga shalat lima waktu dan jum�at serta puasa Ramadhan, dengan dalil sabda Rasulullah: 
�Sholat lima waktu dan jum�at ke jum�at dan Romadhon ke Romadhon adalah penghapus dosa diantara keduanya selama menjauhi dosa besar�  (HR Muslim)

10. Mengumandangkan adzan, dengan dalil sabda Rasulullah Shallallahu�alaihi Wasallam: 
�Seorang Muadzin diampuni dosanya sepanjang (gema) suaranya�  (HR Ahmad dan dishohihkan Al Albani dalam Shahih AL Jaami� no. 1929)

11.  Shalat wajib, dengan dalil sabda Rasulullah Shallallahu�alaihi Wasallam:  
�Bagaimana pendapat kalian seandainya ada sungai di pintu yang digunakan untuk mandi setiap hari lima kali, pa yang kalian katakan apakah tersisa kotorannya? Mereka menjawab: Tidak sisa sedikitpun kotorannya. Beliau bersabda: sholat lima waktu menjadi sebab Allah hapus dosa-dosa�   (HR. Al Bukhari).

12. Memperbanyak sujud, dengan dalil sabda Rasulullah Shallallahu�alaihi Wasallam: 
�Hendaklah kamu memperbanyak sujud kepada Allah, karena tidaklah kamu sekali sujud kepada Allah kecuali Allah mengangkatmu satu derajat dan menghapus satu kesalahanmu (dosa)�  (HR Muslim).

 13. Shalat malam, dengan dalil: 
�Hendaklah kalian sholat malam, karena ia adalah adat orang yang sholeh sebelum kalian dan amalan yang mendekatkan diri kepada Robb kalian serta penghapus kesalahan dan mencegah dosa-dosa�  (HR. Al Haakim, dan dihasankan Al Albani dalam Irwa� Al Ghalil 2/199).

14. Berjihad dijalan Allah, dengan dalil:
�Semua dosa orang yang mati syahid diampuni kecuali hutang�  (HR Muslim)

15. Mengiringi haji dengan umrah, dengan dalil: 
�Iringi haji dengan umroh, karena mengiringi antara keduanya dapat menghilangkan kefakiran dan dosa sebagaimana Al Kier (alat pembakar besi) menghilangkan karat besi�  (HR Ibnu Majah dan dishohihkan Al Albani dalam Shohih Al Jaami� no,2899)

16. Shadaqah, dengan dalil: 
�Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan�   (QS. Al Baqarah: 271)

Rasulullah Shallallahu�alaihi Wasallam pun bersabda: 
�Shadaqah menghapus dosa seperti air memadamkan api�  (HR Ahmad, Al Tirmidzi dan selainnya dan di-shahih-kan Al Al Bani dalam Takhrij Musykilat Al faqr no. 117)

17. Menegakkan hukum pidana sesuai syariat Islam, dengan dalil: 
�Siapa saja yang melanggar larangan Allah kemudian ditegakkan padanya hukum pidana maka dihapus dosa tersebut� (HR Al Haakim dan dishohihkan Al Albani dalam Shahih Al Jaami� no,2732)

Demikian sebagian penghapus dosa, mudah-mudahan penjelasan ini bermanfaat.

Sumber : http://kaeshafiz.wordpress.com/2010/04/16/17-amalan-penghapus-dosa/


Wallahu a�lam bish-shawabi... (hanya Allah yang Mahatahu Kebenarannya)

Jika terjadi kesalahan dan kekurangan disana-sini dalam catatan ini...
Itu hanyalah dari kami...
dan kepada Allah SWT., kami mohon ampunan...

Semoga Allah SWT. memberi kekuatan untuk kita amalkan.
Wassalam...

Semoga Bermanfaat dan bisa kita ambil hikmahnya... amin
Silahkan COPY atau SHARE ke rekan anda jika menurut anda notes ini bermanfaat...

Catatan :
Lampirkan Sumbernya ya... Syukron

Mengapa Allah Membuatku Miskin?

Terapi Hati Menyelamatkan Iman dan Jiwa dari Kemelut Kemiskinan

�Ya Allah, hidupkanlah aku sebagai orang miskin, matikanlah aku sebagai orang miskin, dan bangkitkanlah aku kelak di hari kiamat bersama kelompok orang-orang miskin pula.� (Doa Baginda Rasulullah Saw.)

Ungguh sama sekali tidak ringan hidup sebagai orang miskin. Perut kelaparan, tubuh kepanasan dan kedinginan, bahkan jika turun hujan bisa menggigil kebasahan. Sementara kala mata melirik ke sekitar, masya Allah, jubelan gedung-gedung pencakar langit, mobil-mobil mengkilap, orang-orang perlente, amat sangat nikmat sekali!

Diri menjadi sangat tak berharga. Tak ada yang mau mendengar dan memperhatikan napas berat dan omongan kita. Justru yang ramai hanyalah cemooh atau (minimal) pandangan jijik seolah-olah kita adalah najis penuh lalat dan ulat yang harus dijauhi.

Tapi, begitulah roda kehidupan yang harus dijalani. Tak jarang, di antara mereka yang miskin, tak mampu menahan godaan lapar, dingin, atau panas, sehingga rela mengorbankan iman dan akidahnya. Sebagian lain, menggadaikan harkat dan jiwanya di lembah-lembah prostitusi. Ya, semua lahir dan menjadi kenyataan atas nama keterdesakan ekonomi.

Hidup dalam kemiskinan berhasil mengatasi kesempitan hidup tersebut selalu dalam senyum Islam, iman, dan jiwa yang bermartabat. Buku ini merangsang setiap muslim/muslimah yang berada dalam garis kemelaratan untuk berjuang secara Qur'ani dan Nabawi agar bisa menyelamatkan keindahan iman dan kekuatan jiwa-nya.

Dan, sungguh Maha Adil Allah Swt., berita gembira yang harus Anda ketahui sejak dini adalah bahwa ternyata orang miskin kelak jauh lebih banyak jumlahnya di dalam surga dibandingkan jumlah orang kaya. Optimislah, bahwa Anda sangat berpeluang besar untuk terbang ke surga dengan sayap-sayap sabar menghadapi kemelut kemiskinan.�

Sumber : http://divapress-online.com/index.php/buku/detail/261


SALAH PAHAMKAH TERHADAP DO`A NABI SAW?
Diantara sekian banyak do'a-do'a yang Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam ajarkan kepada umatnya adalah do'a dibawah ini:
"Allahumma ahyinii miskiinan, wa amitnii miskiinan, wahsyurnii fii jumratil masaakiin". "Artinya : Ya Allah ! Hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, dan matikanlah aku dalam keadaan miskin, dan kumpulkanlah aku (pada hari kiamat) dalam rombongan orang-orang miskin".

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ibnu Majah (no. 4126) dan lain-lain. Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini derajatnya : hasan. [Lihat pembahasannya di kitab beliau : Irwaul Ghalil (no. 861) dan Silsilah Shahihah (no. 308)]

Setelah kita mengetahui bahwa hadits ini sah datangnya dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, maka sekarang perlu kita mengetahui apa maksud sebutan miskin dalam lafadz do'a Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam di atas. Yang sangat saya sesalkan diantara saudara-saudara kita (tanpa memeriksa lagi keterangan Ulama-ulama kita tentang syarah hadits ini khususnya tentang gharibul hadits) telah memahami bahwa miskin di sini dalam arti yang biasa kita kenal yaitu : Orang-orang yang tidak berkecukupan di dalam hidupnya atau orang-orang yang kekurangan harta. Dengan arti yang demikian maka timbulah kesalah pahaman di kalangan umat terhadap do'a Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam di atas, akibatnya :
[1]. Do'a ini tidak ada seorang muslimin pun yang berani mengamalkannya, atau paling tidak sangat jarang sekali, lantaran menurut tabi'atnya manusia itu tidak mau dengan sengaja menjadi miskin.
[2]. Akan timbul pertanyaan : Mengapa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menyuruh umatnya menjadi miskin? Bukankah di dalam Islam ada hukum zakat yang justru salah satu faedahnya ialah untuk memerangi kemiskinan? Dapatkah hukum zakat itu terlaksana kalau kita semua menjadi miskin ? Dapatkah kita berjuang dengan harta-harta kita sebagaimana yang Allah Subhanahu wa ta'ala perintahkan kalau kita hidup dalam kemiskinan?. Kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa ta'ala dari berburuk sangka kepada Nabi-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam.
[3]. Ada jalan bagi musuh-musuh Islam untuk mengatakan : �Bahwa Islam adalah musuh kekayaan !?� Padahal yang betul maksud miskin di dalam do'a Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam ini ialah : "Orang yang khusyu dan mutawaadli (orang yang tunduk dan merendahkan diri kepada Allah Subhanahu wa ta'ala)".

Sebagaimana hal ini telah diterangkan oleh Ulama-ulama kita :
[1]. Imam Ibnul Atsir di kitabnya An-Nihaayah fi Gharibil Hadits (2/385) mengatakan :
"Ya Allah hidupkanlah aku dalam keadaan miskin..."
Yang dikehendaki dengannya (dengan miskin tersebut) ialah : tawadlu' dan khusyu', dan supaya tidak menjadi orang-orang yang sombong dan takabur.

[2]. Di kitab kamus Lisanul Arab (2/176) oleh Ibnu Mandzur diterangkan, asal arti miskin di dalam lughah/bahasa ialah = al-khaadi' (orang yang tunduk), dan asal arti faqir ialah : Orang yang butuh. Lantaran itu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berdo'a :
"Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin ..... Yang dikehendaki ialah : tawadlu' dan khusyu'. dan supaya tidak menjadi orang-orang yang sombong dan takabur. Artinya : Aku merendahkan diriku kepada Mu wahai Rabb dalam keadaan berhina diri, tidak dengan sombong. Dan bukanlah yang dikehendaki dengan miskin di sini adalah faqir yang butuh (harta)."

[3]. Imam Baihaqi mengatakan :
"Menurutku bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidaklah meminta keadaan miskin yang maknanya kekurangan tetapi beliau meminta miskin yang maknanya tunduk dan merendahkan diri (khusyu' dan tawadlu')." [Lihat kitab : Sunatul Kubra al-Baihaqi 7/12-13 dan Taklhisul-Habir 3/109 No. 1415 oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar]

[4]. Demikian juga maknanya telah diterangkan oleh al-Imam Ghazali di kitabnya yang mashur Al-Ihya' (4/193). [Baca juga syarah Ihya' (9/272) oleh Imam Az-Zubaidy]

[5]. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan :
"Hidupkanlah aku" dalam keadaan khusyu' dan tawadlu'." [Majmu' Fatawa Ibnu Taimiyah 18/382 bagian kitab hadits]

Beliau juga mengatakan (hal. 326) :
".... bukanlah yang dikehendaki dengan miskin (di hadits ini) tidak mempunyai harta ..."

[6]. Imam Qutaibi juga mengatakan khusyu' dan tawadlu' [Ta'liq Sunan Ibnu Majah (no. 4126) oleh Ustadz Muhammad Fuad Abdul Baqi] Kemudian periksalah kitab-kitab dibawah ini :

[7]. Tuhfatul Ahwadzi Syarah Tirmidzi (7/19-20 No. 2457) oleh Imam Al-Mubaarakfuri.

[8]. Faidhul Qadir Syarah Jami'us Shaghir (2/102) oleh Imam Manawi.

[9]. Al-Majmu' Syarah Muhadzdzab (6/141-142) oleh Imam Nawawi.

[10]. Shahih Jami'us Shaghir (no. 1271) oleh Al-Albani.

[11]. Maqaashidul Hasanah (no. 166) oleh Imam As-Sakhawi.

Setelah kita mengetahui keterangan ulama-ulama kita tentang maksud miskin dalam do'a Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam di atas baik secara lughah/bahasa meupun maknanya, maka hadits tersebut artinya menjadi :
"Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan khusyu' dan tawadlu', dan matikanlah aku dalam keadaan khusyu' dan tawadlu', dan kumpulkanlah aku (pada hari kiamat) dalam rombongan orang-orang yang khusyu' dan tawadlu".

Rasanya kurang lengkap kalau di dalam risalah ini (sebagai penguat keterangan di atas) saya tidak menerangkan dua masalah yang perlu diketahui oleh saudara-saudara kaum muslimin.

Pertama : Bahwa Islam adalah agama yang memerangi atau memberantas kefakiran dan kemsikinan di kalangan masyarakat. Hal ini dengan jelas dapat kita ketahui.

[1]. Di dalam Islam tedapat hukum zakat (satu pengaturan ekonomi yang tidak terdapat pada agama-agama yang lain kecuali Islam). Sedangkan yang berhak menerima bagian zakat di antaranya orang-orang yang fakir dan miskin (At-Taubah : 60).

Kalau saja zakat ini dijalankan sesuai dengan apa yang Allah Subhanahu wa ta'ala perintahkan dan menurut sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, niscaya tidak sedikit mereka yang tadinya hidup dalam kemiskinan -setelah menerima bagian zakatnya- akan berubah kehidupannya bahkan tidak mustahil kalau di kemudian hari merekalah yang akan mengeluarkan zakat. Allah Subhanahu wa ta'ala telah berfirman :
"Artinya : Agar supaya harta itu tidak beredar di antara orang-orang yang kaya saja dari kamu". [Al-Hasyr : 7]

[2]. Islam memerintahkan memperhatikan keluarga (ahli waris) yang akan ditinggalkan, supaya mereka jangan sampai hidup melarat yang menadahkan tangan kepada manusia. Kita perhatikan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam:
"Artinya : Sesungguhnya engkau tinggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya (cukup) lebih baik dari pada engkau tinggalkan mereka hidup melarat/miskin yang menadahkan tangan-tangan mereka kepada manusia (meminta-minta)". [Hadits Riwayat Bukhari 3/186 dan Muslim 5/71 dan lain-lain]

[3]. Bahkan Islam mencela kalau ada seorang mukmin yang hidup dalam keadaan cukup sedangkan tetangganya kelaparan dan dia tidak membantunya, sebagaimana sabda Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam :
"Artinya : Bukanlah orang yang mukmin itu yang (hidup) kenyang, sedangkan tetangganya (hidup) lapar di sebelahnya". [Hadits Shahih Riwayat Bukhari di kitabnya Adabul Mufrad, dan lain-lain]

Maksudnya : Tidaklah sempurna keimanan seorang muslim itu apabila ia makan dengan kenyang sedangkan tetangganya di sebelahnya kelaparan (kalau hal ini ia ketahui dan ia tidak membantunya dengan memberi makan kepada tetangganya).

[4]. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam memohon perlindungan kepada Allah Subhanahu wa ta'ala dari hidup dalam kefakiran dan kelaparan. "Artinya : Dari Aisyah (ia berkata) :
"Bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam biasa berdo'a dengan do'a-doa ini : Allahumma dan seterusnya.. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada-Mu dari fitnah neraka dan azab neraka, dan dari fitnah kubur dan azab kubur, dan dari kejahatan fitnah (cobaan) kekayaan, dan dari kejahatan fitnah (cobaan) kefakiran ...."  [Shahih Riwayat Bukhari (7/159, 161). Muslim (8/75 dan ini lafadznya), Abu Dawud (no. 1543), Ibnu Majah (no. 3838), Ahmad (6/57, 207), Tirmidzi, Nasa'i, Hakim (1/541) dan Baihaqi (7/12).]

Kemudian Hadits Abi Hurairah :
"Artinya : Bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berdo'a : Ya Allah, sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada-Mu dari kefakiran, dan aku memohon perlindungan kepada-Mu dari kekurangan dan kehinaan, dan aku memohon perlindungan kepada-Mu dari menganiaya atau dianiaya". [Shahih Riwayat Abu Dawud (no. 1544), Ahmad (2/305,325). Nasa'i, Ibnu Hibban (no. 2443). Baihaqi (7/12)]

"Artinya : Adalah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berdo'a : Ya Allah, sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada-Mu dari kelaparan, karena sesungguhnya keleparan itu seburuk-buruk teman berbaring, dan aku memohon perlindungan kepada-Mu dari khianat, karena sesungguhnya khianat itu seburuk-buruk teman". [Shahih Riwayat Abu Dawud (no. 1547). Nasa'i dan Ibnu Majah (no. 3354).]

Hadits Abi Bakrah Nufai' bin Haarits : Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengucapkan do'a ini di akhir salat:
"Artinya : Ya Allah, sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada-Mu dari kekafiran dan kefakiran dan azab kubur". [Hadits Shahih atas syarat Muslim di keluarkan oleh Imam Ahmad bin Hambal (5/36,39 dan 44) dan Nasa'i]

Hadits Anas bin Malik : Adalah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengucapkan dalam do'anya :
"Artinya : ....Dan aku memohon perlindungan kepada-Mu dari kefakiran/miskin dan kekafiran ......". [Hadits Shahih atas syarat Bukhari, dikeluarkan oleh Imam Hakim (1/530). dan Imam Ibnu Hibban (no. 2446).]

Kedua : Islam tidak menjadi musuh kekayaan asalkan si kaya seorang yang taqwa. Bahkan dengan kekayaan itu seorang dapat memperoleh ganjaran yang besar dan derajat yang tinggi seperti berjihad dengan harta sebagaimana yang Allah perintahkan, menunaikan zakat harta, infaq dan shadaqah, ibadah haji, mendirikan masjid-masjid, pesantren dan sekolah-sekolah Islam, membantu anak yatim dan perempuan-perempuan janda dan lain-lain yang membutuhkan harta dan kekayaan. Nabi Shallalahu 'alaihi wa sallam pernah mendo'akan Anas bin Malik :
"Artinya : Ya Allah ! Banyakkanlah hartanya dan anak-anaknya serta berikanlah keberkahan apa yang Engkau telah berikan kepadanya". [Hadits Riwayat Bukhari (7/152, 154,161 dan 162). dan lain-lain]

Hadits ini mengandung beberapa faedah.
[1]. Bahwa harta itu adalah salah satu nikmat Allah Subhanahu wa ta'ala.
[2]. Bahwa banyak harta itu tidak tercela atau mengurangi ibadahnya, asalkan dia memang seorang yang taqwa. Bahkan hadits ini kita dapat mengetahui bahwa banyak harta itu merupakan suatu kebaikan dan nikmat dari Allah Subhanahu wa ta'ala. Karena tidak mungkin Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mendo'akan kecelakaan kepada salah seorang shahabat dan pembantunya seperti Anas bin Malik kalau tidak menjadi kebaikan baginya !.
[3]. Boleh mendo'akan seseorang supaya banyak hartanya dengan penuh keberkahan.
[4]. Dari hadits ini kita mengetahui bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menyukai mempunyai anak banyak.
[5]. Hadits ini menerangkan tentang keutamaan Anas bin Malik yang telah terbukti dalam tarikh -berkat do'a Nabi- tidak seorangpun dari shahabat Anshar yang paling banyak harta dan anak selain dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda kepada shahabatnya Hakim bin Hizaam :
"Wahai Hakim! Sesungguhnya harta ini indah (dan) manis, maka barang siapa yang mengambilnya dengan jiwa yang baik, niscaya mendapat keberkahan, dan barang siapa yang mengambilnya dengan jiwa yang tamak, niscaya tidak mendapat keberkahan, dan ia seperti orang yang makan tetapi tidak pernah kenyang, dan tangan yang diatas (yang memberi) lebih baik dari tangan yang di bawah (yang meminta)". [Hadits Riwayat Bukhari (7/176) dan Muslim (3/94)] [1]

[Disalin dari kitab Al-Masaa�il (Masalah-Masalah Agama) Jilid 2, Penulis Abdul Hakim bin Amir Abdat, Penerbit Darul Qolam � Jakarta, Cetakan I � Th. 1423H/2002M]

(Oleh Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abda)


Firman Allah QS Al-Lail 5 - 7:
"Adapun orang yang suka memberi dan bertakwa, serta percaya pada husna (kebaikan) surga, maka kami akan memudahkan baginya jalan yang ringan."

Firman Allah QS. AL-Lail 17 - 21:
"Dan akan dihindarkan dari api neraka, orang yang bertaqwa yaitu yang memberikan harta untuk berzakat. Dan tiada seseorang yang berbudi padanya untuk dibalas. Hanya semata-mata dalam beramal itu menuju keridloan Allah. Dan tentu Allah akan rela padanya."

Firman Allah QS. Al-Baqarah 271:
"Jika kamu perlihatkan sedekah itu maka baiklah perbuatan itu, dan bila kamu rahasiakan, tetapi tepat kau berikan kepada fakir miskin, maka itu lebih baik bagi dirimu, dan Allah akan menghapuskan dosamu. Dan Allah maha mengetahui semua amal perbuatanmu."

Firman Allah QS. Ali Imran 92:
"Kamu tidak mencapai birr (bakti) yang sesungguhnya hingga kamu bersedekah dari yang paling kamu sukai. Dan semua yang kamu belanjakan, sungguh Allah mengetahuinya."

Hadits 1, HR Bukhary-Muslim: Abdullah bin Mas'ud r.a. berkata: Bersabda Rasulullah saw:
"Tidak boleh iri hati kecuali dalam dua macam: 1. Seorang yang diberi oleh Allah ta'ala harta kekayaan maka dipergunakan untuk mempertahankan hak (kebenaran). 2. Seorang yang diberi oleh Allah ta'ala ilmu hikmat, maka ia pergunakan dan diajarkannya."

Hadits 2, HR. Bukhary-Muslim: Ibn Umar r.a. berkata: Bersabda Nabi saw:
"Tiada boleh seorang iri hati terhadap orang lain, kecuali dalam dua hal: Seorang yang diberi pengertian Quran, maka ia mempergunakannya sebagai pedoman amalnya siang malam. Dan seseorang yang diberi oleh Allah kekayaan harta, maka ia membelanjakannya siang dan malam untuk segala amal kebaikan."

Hadits 3, HR. Bukhary-Muslim: Abu Hurairah r.a. berkata:
"Bahwasanya para fakir miskin dari sahabat Muhajirin datang mengeluh kepada Rasulullah saw: "Ya Rasulullah, orang-orang kaya telah memborong semua pahala dan tingkat-tingkat yang tinggi serta kesenangan yang abadi". Nabi saw bertanya: "Mengapa demikian?" . Jawab mereka: "Mereka sembahyang sebagaimana kami, dan puasa sebagaimana kami, dan mereka bersedekah sedang kami tidak dapat bersedekah, dan mereka memerdekakan budak, sedang kami tidak dapat memerdekakan budak". Rasulullah bersabda: "Sukakah saya ajarkan kepada kamu amal perbuatan yang dapat mengejar mereka, dan tiada seseorang yang lebih utama dari kami kecuali yang berbuat seperti perbuatanmu?". Jawab mereka: "Baiklah ya Rasulullah". Bersabda Nabi: "Membaca Tasbih dan takbir dan tahmid tiap selesai sembahyang 33 kali". Kemudian sesudah itu para fakir miskin itu kembali mnegeluh kepada Rasulullah saw: "Ya Rasulullah, saudara-saudara kami orang kaya, mendengar perbuatan kami, maka mereka berbuat sebagaimana perbuatan kami. Maka sabda Nabi: Itulah kurnia Allah yang diberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya".


Mengenai Harta & Kekayaan, Kaum muslimin saat ini terbagi dalam 3 Golongan :
PERTAMA, sangat membenci harta & kekayaan sehingga menutup mata, telinga & pikiran terhadap urgensi harta & kekayaan;
KEDUA, sangat mencintai harta & kekayaan sehingga seluruh hati, pikiran, waktu & tenaga hanya untuk mengumpulkan harta & menumpuk kekayaan;
KETIGA, Golongan pertengahan (ummatan washatan), menempatkan masalah Harta & Kekayaan sesuai dengan tempatnya. Ingatlah Kaum Muslimin adalah umat pertengahan (ummatan washatan).

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat pertengahan, agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.
�Demikianlah Kami jadikan kamu umat pertengahan, supaya kami menjadi saksi atas manusia� (Q.S. 2:143);

Umat Islam juga berkarakter Umat Pertengahan, maksudnya adalah kelompok manusia yang senantiasa bersikap moderat atau mengambil jalan tengah, yaitu sikap adil dan lurus, yang akan menjadi saksi atas setiap kecenderungan manusia, ke kanan atau ke kiri, dari garis tengah yang lurus. (Dr. Yusuf Qordhowi, 1995).

Mengambil jalan tengah dapat dimaknai pula sebagai selalu bersikap proporsional (i�tidal), tidak berlebih-lebihan (israf), tidak kelewat batas (ghuluw), tidak sok pintar atau sok konsekuen dan bertele-tele (tanathu�), dan tidak mempersulit diri (tasydid). Dengan demikian, sebagai umat pertengahan, umat Islam tidak berlebih-lebihan dalam segala hal, termasuk ibadah (misalnya sampai meninggalkan kehidupan duniawi) dan dalam peperangan sekalipun (QS. 2:190); tidak membesar-besarkan masalah kecil; mendahulukan yang wajib atau lebih penting ketimbang yang sunah atau kurang penting; berbicara seperlunya alias tidak bertele-tele; tidak terlalu panjang membaca ayat-ayat dalam mengimami shalat berjamaah.

�Makan dan minumlah dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan�   (QS. Al-A�raf:31).

�Dan orang-orang yang jika membelanjakan harta mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak pula kikir dan pembelanjaan itu di tengah-tengah antara yang demikian� (Q.S. Al-Furqon:67).

Rasulullah Saw bersabda, yang artinya,
�Hindarkanlah daripadamu sikap melampuai batas dalam agama, karena sesungguhnya orang-orang sebelum kamu telah binasa karenanya.� (HR. Ahmad, Nasa�i, Ibnu Majah, dan Al-Hakim dari Abdullah bin Abbas).

Sebagai umat pertengahan, umat Islam tidak melakukan hal-hal ekstrem. Fanatik terhadap suatu pendapat dan tidak mengakui pendapat-pendapat lain. Mewajibkan sesuatu yang tidak diwajibkan Allah SWT. Misalnya, memaksa orang lain mengerjakan hal-hal sunah dengan menganggapnya seolah-olah wajib, atau mengerjakan sesuatu yang lebih berat/sulit daripada yang ringan/mudah. Padahal, sejalan dengan firman Allah SWT yang menghendaki kemudahan dan tidak menghendaki kesukaran (QS. 2:185). Memperberat yang tidak pada tempatnya.

Sumber : http://id-id.facebook.com/topic.php?uid=134808889744&topic=10557&post=82799


Wallahu a�lam bish-shawabi... (hanya Allah yang Mahatahu Kebenarannya)

Jika terjadi kesalahan dan kekurangan disana-sini dalam catatan ini...
Itu hanyalah dari kami...
dan kepada Allah SWT., kami mohon ampunan...

Semoga Allah SWT. memberi kekuatan untuk kita amalkan... Amin
Wassalam...

Semoga Bermanfaat dan bisa kita ambil hikmahnya... Amin
Silahkan COPY atau SHARE ke rekan anda jika menurut anda notes ini bermanfaat...

Catatan :
Lampirkan Sumbernya ya... Syukron

Jumat, 23 Agustus 2013

Akibat Tidak Peduli Seruan Azan

Azan (ilustrasi)
Azan (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Yunahar Ilyas

Sudah setahun Anwar sekolah di kota, di sebuah madrasah tingkat Aliyah. Dia bangga sekali, karena tidak semua anak lulusan Tsanawiyah di desanya dapat melanjutkan pendidikan menengah atas di ibu kota propinsi.

Sebagian besar hanya melanjutkan sekolah di ibu kota kabupaten atau malah berhenti sekolah dan mulai bekerja di sawah atau ladang membantu orang tua yang umumnya petani.
   
Liburan setelah ujian smester dua kali ini dia manfaatkan untuk pulang ke desa berkumpul dengan teman-teman sebaya.

Berbagai macam agenda sudah tersusun di kepalanya, salah satunya yang paling menarik adalah makan bersama dengan teman-teman sebaya.

Mereka iyuran membeli bahan-bahan masakan yang diperlukan, bisa berupa uang atau bahan mentahnya langsung. Mereka akan masak sendiri, dengan kemampuan sekadarnya, yang penting tidak asin.

Bekal ilmu memasaknya paling-paling dari sekali-sekali memperhatikan ibu atau kakak perempuannya memasak di dapur.

Membayangkan acara makan bersama itu, Anwar tidak sabar segera sampai di desa. Perjalanan 60 km dengan mobil dirasakannya terlalu lama.
   
Pada hari H, sepuluh anak remaja sudah berkumpul di bawah sebuah pohon, tidak jauh dari pinggir sungai. Itulah tempat favorit mereka.

Pada saat azan Zhuhur berkumandang, mereka tengah sibuk-sibuknya memasak sambil bercanda penuh tawa. Sebenarnya Anwar ingin segera ke masjid melaksanakan shalat Zhuhur berjamaah seperti yang sudah biasa dilakukannya sejak kecil.

Ayahnya selalu membimbingnya shalat berjamaah ke masjid. Sejak sekolah dasar sampai tamat Tsanawiyah dia sudah terbiasa shalat di masjid. Sebenarnya motif utamanya shalat berjamaah di masjid adalah karena takut ayahnya.

Kalau ketahuan tidak shalat di masjid, ayahnya pasti marah besar. Ingat ayahnya, Anwar ingin segera shalat ke masjid meninggalkan teman-temannya. Tetapi dia merasa tidak enak, apalagi masakan hampir matang.
   
Sedang bimbang begitu, ayahnya lewat menuju masjid dan mengingatkan Anwar untuk segera ke masjid. Dia mengangguk, tetapi tidak melaksanakannya.

Begitu ayahnya kembali dari masjid dan melihat Anwar masih  bersama teman-temannya di bawah pohon, beliau marah dan segera memanggil puteranya dengan suara keras: "War, apabila acaramu selesai, segera ke rumah!"

Untunglah ayahnya masih memberinya kesempatan menikmati hidangan yang sudah mereka siapkan susah payah. Tetapi hati Anwar sudah tidak tenang, ayahnya pasti marah besar. Dia siap menerima hukuman yang akan diberikan.
   
Setelah benar-benar menerima hukuman, Anwar kaget bukan kepalang. Hukumannya benar-benar di luar dugaannya. Dengan tenang ayahnya memutuskan: "Anwar, kamu tidak boleh kembali ke kota. Kamu harus berhenti sekolah. Tinggal saja di desa bertani, lalu menikah!''

''Tidak ada gunanya kamu sekolah tinggi di kota, kalau hasilnya kamu mengabaikan panggilan azan. Ayah tidak ingin kamu sekolah tinggi tetapi tidak peduli dengan panggilan shalat. Baru setahun kamu di kota, kamu sudah berani meninggalkan shalat berjamaah di masjid."
   
Anwar tahu watak bapaknya. Jika sudah memutuskan sesuatu, sukar untuk mengubahnya. Dia minta maaf sambil menangis, tetapi keputusan tetap tidak berubah.

Liburan sekolah sudah habis seminggu yang lalu, tetapi dia belum juga diberi izin kembali ke kota. Anwar betul-betul sangat menyesal telah mengabaikan panggilan shalat Zhuhur di masjid. Walaupun sebenarnya, baru sekali itu dia lakukan. Tapi penyesalan tidak ada gunanya.
   
Untunglah kemudian, pamannya membantu membujuk ayahnya dan menjamin pelanggaran itu tidak akan terulang kembali. Akhirnya ayahnya membolehkannya kembali sekolah ke kota atas jaminan pamannya itu.

Sumber : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/13/08/24/ms09tm-akibat-tidak-peduli-seruan-azan
    

Di Riyadh, Seorang Khatib Diturunkan dari Mimbar Karena Doakan Mesir

dakwatuna.com � Riyadh. Jamaah shalat yang berasal dari Mesir memprotes khatib saat shalat Jumat di masjid Al-Firdaus, Riyadh. Di akhir khutbahnya, khatib mendoakan rakyat Mesir, dan mendoakan keburukan untuk As-Sisi, �Ya Allah, cabutlah Basyar dan As-Sisi.�

Saat itulah jamaah dari Mesir memotong khutbah, dan berteriak kepada khatib, �Apa urusanmu dengan negara kami?� Protes tersebut akhirnya menyebabkan terjadinya pertengkaran antar jamaah yang mendukung dan yang memprotes. Hingga akhirnya imam shalat memulai shalat. untuk menertibkan suasana, satu orang Mesir dikeluarkan dari masjid.

Sebuah sumber di kementrian wakaf Saudi menyebutkan bahwa kementrian sudah menerima laporan kejadian ini, dan akan menindak dengan memberhentikan khatib dan tugasnya berkhutbah.

Kementrian akan menyelidiki kasus ini lebih lanjut pada hari Ahad depan. Karena memang pihaknya menolak dengan keras segala praktek politisasi khutbah Jumah.

Dalam kasus serupa, kementrian juga pernah menghentikan khatib dan imam masjid Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab di distrik As-Salam Riyadh selatan. Setelah khatib memprovokasi untuk angkat senjata di negera-negara yang dilanda revolusi dan kerusuhan. (msa/dkw/alhayah)